satria-guru-imdaadSATRIA Dharma, saat mendirikan Yayasan Airlangga, tercatat masih sebagai guru di PT Badak International School, Bontang. Namun, ia telah berkecimpung di dunia pendidikan jauh sebelumitu. Satria pernah mendirikan lembaga bimbingan belajar (LBB) Airlangga Student Group (ASG) di Surabaya, bersama rekannya Drs Totok Sutjiono ( IKIP Surabaya—sekarang Unesa) dan Drs Med. Satriyo Wotjaksono (Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Unair) pada 1984. Tiga tahun kemudian, ASG terus berkembang dan membuka cabang di Gresik, Madiun, Mojokerto, Jember, Pamekasan dan Kediri. Agung Sakti juga pernah bergabung di ASG menjadi tenaga pengajar (Tentor) pada tahun 1985. LBB ASG didirikan setelah karier Satria sebagai PNS mengalami “kecelakaan”. Ketika itu, Satria menolak untuk menjadi anggota Partai Golkar. Memang pada rezim Orde Baru berjaya, semua PNS “dipaksa” untuk masuk partai berlambang pohon beringin itu. Satria menolak karena memiliki prinsip bahwa seorang guru sebenarnya adalah sosok ’pinandito’, tak boleh bersikap partisan dengan mengikuti golongan atau partai politik tertentu. Sikapnya itu membuat dia diskors bertahun-tahun dan dikeluarkan dari tempatnya mengajar. Namun, lelaki berperawakan sedang dan berambut keriting ini tidak patah hati dengan kondisi tersebut, dan justru menggunakan kesempatan itu untuk membuka bimbingan belajar ASG tadi. Satria Dharma adalah alumni SD TPPNU Chadijah, Surabaya, kemudian melanjutkan ke SMPN 2, SMAN 7 dan PGSLP Surabaya. Mengawali kariernya di dunia pendidikan, saat ia masuk IKIP Negeri Surabaya tahun 1977, pada program pendidikan guru diploma 1 jurusan Bahasa Inggris di PGSLPYD (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama yang Disempurnakan). satria-dharma-dan-istriSetelah lulus, Satria langsung ditempatkan di SMPN 1 Caruban, dan mengajar selama dua tahun. Pada 1980, dia kembali masuk IKIP untuk program S1 jurusan yang sama, sambil mengajar sebagai PNS di SMPN 2 Surabaya. Lantaran pemikirannya yang visioner saat kuliah di IKIP, Satria pernah menjadi ketua HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) Bahasa Inggris, meski waktunya terbatas tetap ia lakoni, karena saat itu Satria juga harus mengajar pada siang harinya. Karena prestasinya yang bagus, Satria terus menerus mendapatkan beasiswa peningkatan prestasi. Setelah lulus pada 1984, Satria kemudian pindah mengajar di SMAN 12, dan pindah lagi ke SMAN 13 Surabaya. Tahun 1990, Satria mulai merasa jenuh dengan apa yang dikerjakannya saat itu, kemudian mendapat tawaran ke pedalaman Kalimantan, mengajar di Bontang International School di Kalimantan Timur. Di tempat itu, Satria mengajar Indonesian Studies pada siswasiswa asing. Setelah enam tahun mengajar di sekolah internasional itu, Satria mulai menyadari betapa tertinggalnya kualitas pendidikan nasional dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh sekolah-sekolah internasional. Menyadari hal itu, ia bertekad untuk keluar dari sekolah internasional itu dan mendirikan sekolah sendiri. satria dharma 2Karena kiprahnya yang terus melejit dalam bidang pendidikan, Satria pernah didaulat untuk menjabat sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Balikpapan pada tahun 2003 hingga 2006, dan menjadi pelopor program sekolah gratis di Balikpapan maupun di Kalimantan Timur. Tulisannya tentang sekolah gratis menghiasi koran-koran lokal dan mailing listmailing list pendidikan. Sikapnya ini membuatnya sempat “dimusuhi” oleh para petinggi Pemerintah Kota Balikpapan, tapi pada akhirnya usulannya mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Sekolah gratis menjadi wacana paling populer pada waktu itu, dan saat ini hampir semua kota dan kabupaten di Kalimantan Timur telah mengadopsinya. Obsesinya di dunia pendidikan begitu tinggi. Masih belum puas dengan apa yang dilakukannya di Kalimantan Timur, Satria kemudian mengajak beberapa rekannya untuk mendirikan Stikom Bali di Denpasar, dan juga sebuah sekolah tinggi di Bandung. Satria kemudian menjajaki profesi lain sebagai konsultan pendidikan di beberapa lembaga, yaitu di Sampoerna Foundation, Provisi Education dan CBE. Profesinya sebagai konsultan inilah yang membuatnya sering harus berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia. Pria yang hobi membaca ini, masih menyimpan beberapa obsesi lain di bidang pendidikan. Di antaranya adalah menjadikan masyarakat memiliki budaya membaca dengan programnya A Reading Nation. Dia juga ingin memiliki lembaga pelatihan guru yang benar-benar berkualitas. Salah satu proyek yang sedang dikerjakannya adalah membesarkan Indonesian Teachers Club yang dibentuknya di Jakarta beberapa waktu lalu, di bawah bendera CBE. Satria adalah salah satu pemrakarsa Konferensi Guru Indonesia (KGI) 2006 yang diselenggarakan oleh Sampoerna Foundation dan Provisi Education pada November 2006 lalu. Satria DharmaMendiknas Dr Bambang Sudibyo, saat itu, yang membuka dan sekaligus menjadi keynote speaker pada acara tersebut. Mendiknas sangat terkesan dengan KGI 2006, ia berharap agar kegiatan ini menjadi kegiatan rutin tahunan. Saat ini, Satria belajar di Surabaya. Aktivitasnya seminggu sekali mengajar tentang kewirausahaan di Universitas Negeri Surabaya. Ia juga menjadi Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) yang punya cabang di lebih dari 15 provinsi. Satria juga mendirikan Eureka Academia, sebuah lembaga pelatihan menulis bagi anak-anak di Surabaya. Selain itu, Satria juga masih aktif memberikan presentasi dan seminar di berbagai daerah dan kampus dalam bidang literasi. Ia membantu tim penyusunan program Sekolah Unggulan Berasrama di Provinsi Jawa Timur. Ia juga menjadi konsultan di SMAN 5 Surabaya. “Saya mengisi diskusi-diskusi di berbagai mailing list pendidikan. Sesekali saya datang ke Bali untuk mengurusi Yayasan Widya Dharma Shanti”.***