Mulia (duduk, 2 dari kiri) bersama jajaran pendiri dan staf Airlangga saat raker tahun 2013.

Mulia (duduk, 2 dari kiri) bersama jajaran pendiri dan staf Airlangga saat raker tahun 2013.

MALAM itu, Agung mendatangi Mulia Hayatie. Memang tidak ada yang aneh, karena keluarga Bani Hasjim selalu berkumpul, guyub dan saling berkomunikasi dengan baik. Apalagi, saat itu sekitar tahun 1992, Agung masih tinggal di tempat kakaknya itu di daerah Sepinggan. Tapi kali ini, Agung menawarkan sesuatu. “Ning, sampeyan arep gabung tha? Ndirikno yayasan pendidikan?“ tanya Agung. Sebagai seorang kakak, tentu saja Mulia tak berpikir panjang untuk ikut bergabung, meski sebenarnya tidak pernah tahu sama sekali tentang dunia pendidikan. Saat itu, Mulia langsung mengiyakan ajakan itu. Niat awalnya hanya untuk mendukung sang adik yang mau merintis usaha dalam bidang apapun, termasuk bidang yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya. Mulia HayatiKebetulan, saat itu, Mulia sudah bekerja dan menjadi karyawan tetap di sebuah perusahaan Badan Usaha Milik Negera (BUMN) di bidang industri kimia dasar, yaitu PT Pupuk Kaltim (PKT). Dan kebetulan juga, Mulia memiliki tabungan hasil kerja kerasnya selama kurang lebih 12 tahun. Suaminya I Gusti Putu Mustika, seorang pemuda tampan yang bekerja di PT Angkasa Pura I, selalu memenuhi kebutuhan keluarganya, sehingga Mulia bisa menabung penghasilannya selama bekerja. Selain bekerja di PKT, Mulia juga pintar dalam berbisnis. Mulia bahkan yang merintis koperasi di Angkasa Pura, tempat suaminya bekerja. Ia juga membuka unit bisnis lainnya hingga usaha butik. “Pokoknya, saat diajak itu, saya punya tabungan ratusan juta. Karena memang saya tidak pernah mempergunakan uang gaji dan penghasilan usaha saya itu. Semua sudah tercukupi oleh suami,” jelas Mulia. Setelah mendapat persetujuan itu, Agung mulai merancang rencana membuka lembaga pendidikan sampai pada siapa saja yang akan dilibatkan dalam usaha itu. Mulia sendiri tidak terlibat aktif dalam asal muasal pendiriannya, termasuk pemberian nama yayasan. Ia hanya ikut sebagai salah satu penyandang dana. “Setahuku, kami bergabung berlima: Aku, Mas Agung (adik), Mas Satria (kakak) atau biasa dipanggil Mas Adok dan Tante Bachriah (almarhum), serta Om Bachrun Ismail. Itu saja”. Untuk teknis di lapangan, sejak awal Mulia memang jarang bersentuhan, karena merasa tidak paham di bidang pendidikan. Perannya yang paling penting justru ketika yayasan kepepet kehabisan dana untuk operasional atau gaji karyawan, maka Mulia lah yang membantu menyelesaikannya. Selebihnya, seluruh pengelolaan yayasan ia serahkan kepada saudara-saudaranya yang lebih ahli dalam bidangnya. Mulia Hayati2Ada anekdot di keluarga Hasjim tentang Mulia. Saudara-saudaranya sering menyebut Mulia dengan gelar “bank tanpa bunga”. Hal ini karena Mulia tidak pernah pelit untuk meminjamkan uang, bahkan terkadang selain tanpa bunga tadi, Mulia juga lupa untuk menagih. “Ya, terkadang kalau lupa, ada harapan pemutihan he..he..he..” seloroh Wahyuni. Peran lainnya, Mulia juga menjadi penengah jika saudara-saudaranya berdiskusi sengit dan saling mempertahankan argumen. Apalagi, Satria Dharma dan Agung kerap kali berbeda pandangan. Satria lebih mendorong mendirikan lembaga pendidikan yang go international dengan kualitas yang baik. Sementara Agung, lebih menekankan soal pengembangan lembaga; ekspansi. Jika terjadi gesekan, maka Mulia lah yang menengahi. Namun, jika Mulia juga tidak bisa mengatasi, maka sang ayah, Hasjim yang mengambil keputusan.***