Bachrun di salah satu event di Taman Bungkul Surabaya.

Bachrun di salah satu event di Taman Bungkul Surabaya.

BERDIRINYA Pendidikan Yayasan Airlangga Balikpapan, dibukukan pada akta notaris Masitah SH Januari 1993. Adalah peran 5 orang pendiri yang masih dalam ikatan keluarga. Yakni Bachrun Ismail BSc, Dra Hj Bachriah Wahab (alm), Drs Satria Dharma, Dra Mulia H Deviantie dan Agung Sakti Pribadi SH. Bachrun dan Bachriah merupakan adik dari Hj Hafsah, istri dari HM Hasjim Mahmud, yang tak lain orangtua kandung dari Satria Dharma, Mulia dan Agung.
Bachrun yang mantan pejabat dinas koperasi di Bone, setelah berhenti bekerja, memutuskan untuk hijrah ke Balikpapan. Ia tinggal di rumah adiknya, Hj Bachriah (alm) di kawasan Gunung Pasir. Pria kelahiran Muara Badak (dulu masuk Samarinda) 08 November 1939 itu, awalnya hanya membantu pekerjaan Abdul Wahab, suami Bachriah, yang saat itu berprofesi sebagai Notaris. Masa kecil Bachrun memang dihabiskan di Muara Badak, Kalimantan Timur (Kaltim), namun ketika menginjak usia sekolah, ia pindah ke Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel).
gedung-stmik-stikom balikpapan

Gedung STMIK-STIKOM Balikpapan yang baru.


Ia anak ke-6 dari 8 bersaudara. Bapaknya, H Ismail adalah guru agama di Desa Ta’juru, Kabupaten Bone, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga yang memiliki bidang sawah yang banyak. Bachrun kecil termasuk anak yang cerdas. Ia pernah mewakili sekolahnya untuk lomba mengaji. Suaranya sangat merdu dan indah saat melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Bachrun sekolah di SD Desa Marek Kabupaten Bone, SMP PGRI, kemudian ke SG B di Kabupaten Bone dan SMAN Maros, di Kabupaten Maros dan lulus tahun 1956.
Lulus SMA, Bachrun mengajar di beberapa sekolah dasar, antara lain SD di Rongrong, SD Bojoe dan SD Salomekko, semuanya di Kabupaten Bone. Bachrun kemudian pindah ke Makassar dan mengajar di SD 012 Makassar sekitar 1 tahun. Merasa kurang mendapat tantangan menjadi seorang guru, Bachrun kemudian pindah bekerja di dinas koperasi di Makassar. Tiga tahun kemudian, Bachrun dipindahkan ke Gorontalo sebagai wakil kepala Dinas Koperasi di sana. Hanya setahun kemudian Bachrun kembali ke Makassar.
Belum setahun di Makassar, Bachrun dipindahkan ke Raha, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara sebagai kepala Dinas Koperasi. Bachrun adalah kepala dinas koperasi termuda di lingkungan Provinsi Sulawesi Tenggara. Jabatan kepala dinas hanya dilakoni sekitar 1,5 tahun untuk kemudian Bachrun kembali lagi berdinas di Makassar.
Selama di Makassar, Bachrun memanfaatkan waktunya belajar keras untuk mengikuti tes masuk Akademi Koperasi Jakarta. Usaha dan perjuangannya tidak sia-sia. Bachrun adalah salah satu yang berhasil lulus dan dikirim ke Jakarta. Pada tahun 1964, Bachrun meninggalkan Makassar dan berangkat ke Jakarta dengan menyimpan harapan dan citacita yang tinggi.
yayasan-slide-smk-airlangga8

Gedung SMK Airlangga Balikpapan.


Kepindahan Bachrun menimba ilmu di Jakarta merupakan terobosan luar biasa di lingkungan keluarganya. Kakaknya, H Abdul Rauf di Makassar yang dikenal dengan panggilan Amba adalah kakak yang paling disayangi sekaligus disegani karena perhatiannya di bidang pendidikan. Amba (almarhum) adalah guru yang sangat dikenal dan dihormati di Makassar. Amba memberi dukungan dan semangat kepada Bachrun untuk tekun belajar dan menimba ilmu di mana saja.
Di Jakarta, Bachrun tidak hanya belajar di kampusnya di Akademi Koperasi Jakarta (AKJ). Suhu politik awal tahun 1960-an juga berimbas di lingkungan mahasiswa. Berbagai organisasi kemahasiswaan seperti Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) yang underbow-nya PKI dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia-A Surachmad (GMNI Asu) yang underbow-nya PNI – Asu turut membuat situasi kemahasiswaan diwarnai pertarungan politik praktis. Bachrun sendiri bergabung dengan organisasi KAHMI-KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda-Pelajar Indonesia) Bachrun juga terlibat aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan. Tak jarang antarmahasiswa terjadi bentrok fisik. Bagi Bachrun, itu adalah masa-masa yang sangat krusial bagi mahasiswa. Tidak mungkin bisa belajar tekun secara normal karena kondisi perpolitikan lagi panas, dan mahasiswa terlibat di dalamnya.
Bachrun lulus Akademi Koperasi Jakarta tahun 1968 dan harus kembali ke Makassar. Namun, nampaknya Bachrun masih lebih suka menetap di Jakarta. Ia tahu, apabila kembali ke Makassar maka ia harus menerima dan siap ditempatkan di kota/kabupaten mana saja di Indonesia. Bachrun tidak siap untuk ditempatkan di daerah terpencil seperti sebelumnya, sehingga ia memilih untuk keluar dari dinas koperasi dan berkarier di swasta.
Setelah sekitar 10 tahun di Jakarta, Bachrun yang memilih hidup melajang itu akhirnya meninggalkan Jakarta menuju Surabaya dan tinggal bersama kakaknya, Hj Hafsah Hasjim. Tak sampai 2 tahun di Surabaya, Bachrun diminta oleh Bachriah untuk tinggal bersamanya di Balikpapan. Sejak saat itu, Bachrun pun tinggal di Balikpapan sampai sekarang.
bahrun-dan-agungDari sosok Bachrun lah lembaga pendidikan ini berawal. Pria yang betah melajang itu, menjadi pusat perhatian keluarga. Maklum, selain melajang, Bachrun saat itu tidak memiliki pekerjaan tetap. Ada komitmen tidak tertulis antara Hj Hafsah dengan Hj Bachriah. Di mana Hj Hafsah bertanggung jawab atas Siti Aisyah, kakaknya yang kerap dipanggil Ibu Isa, yang juga kakak Bachriah. Sementara Bachriah bertanggung jawab atas Bachrun.
Dari komitmen itu, sampai saat ini, Bachrun masih tinggal bersama keluarga besar Hj Bachriah. Sementara Siti Aisyah, tinggal bersama keluarga Hasjim di Jl Pupuk Baru No 4. “Pak Bachrun sekarang tinggal sama saya, dulu di rumah mama,” kata Mardatillah, putri Bachriah, yang saat ini mengelola STIE Madani di Gunung Pasir.
Menurut Mulia, komitmen itu tidak berwujud, tapi mengalir begitu saja. Ini bentuk tanggung jawab keluarga, mengingat baik Bachrun ataupun Siti Aisyah hingga di usia sepuh ini masih melajang. Bahkan, sebelum meninggal, Bachriah menitipkan Bachrun ke Mardatillah, anak peremuannya itu.
Bachriah adalah dosen di FISIP Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda. Bachriah memang kelahiran Samarinda 19 September 1941. Ibu tiga anak itu menempuh studi S1 Pendidikan Sastra di Universitas Hasanuddin, Makassar, kemudian menyelesaikan S2 Administrasi Negara di Universitas Brawijaya (Unibraw), Malang, Jawa Timur. Bachriah menikah dengan Abdul Wahab pada 1974 dan berdomisili di Gunung Pasir, samping kampus STIE Madani.
Setelah lulus kuliah, Bachriah menjadi dosen di FISIP Unmul yang saat itu kampusnya berlokasi di Gunung Pasir, Balikpapan. Sebelum tahun 1980-an, ada dua fakultas Unmul yang berlokasi di Balikpapan, selain Fisipol juga ada Fakultas Ekonomi (Fekon). Menurut Rochyati Wahyuni Triana, anak ke-4 HM Hasjim dan Hj Hafsah, peran Bachriah pada awal pendirian lembaga pendidikan ini sangat berpengaruh, sehingga lembaga pendidikan tersebut bisa cepat berkembang. Bachriah lah yang memiliki akses kepada para petinggi pemerintah kota Balikpapan, saat itu. Tidak hanya itu, keluarga Hasjim juga bisa eksis di Balikpapan juga berkat Bachriah. “Kami berada di Balikpapan karena jasa beliau,” kata Wahyuni.
Mulia Hayatie atau yang akrab disapa Tammy, dan kakak sulungnya, Surya Insani atau biasa disebut Oky, juga pernah kuliah di Fekon Unmul di Balikpapan. Bahkan, Tammy dan Oky sewaktu masih lajangnya, pernah tinggal di kediaman Bachriah, kebetulan kediamannya dekat dengan kampus.***