agung-ketika-wartawan-manuntungAGUNG yang kuliah di Fakultas Hukum Unversitas Airlangga (FHUA) angkatan 1984, juga pernah nyambi mengajar dan menjadi koordinator tingkat SMP. Kesibukan mengajar dan mengelola LBB ASG di Surabaya yang membuka cabang baru hingga Malang dan Makassar membuat kuliahnya molor hingga 7 tahun. Namun pada akhirnya, September 1991 Agung berhasil menyelesaika studinya sebagai sarjana hukum.
Maret 1991, Agung yang baru saja menikahi Ririn Kusdyawati, memutuskan pindah ke Balikpapan dan memulai lembaran baru kehidupannya. Sampai di Balikpapan, sekitar dua bulan kemudian, Agung memutuskan untuk bergabung menjadi wartawan di ManuntunG (Sekarang Kaltim Post), media di bawah payung Jawa Pos Group.
Berdirinya Yayasan Airlangga ini dapat dikatakan tidak direncanakan lebih dulu. Walaupun Satria dan Agung memiliki pengalaman mendirikan dan mengelola lembaga bimbingan belajar di Surabaya dan beberapa kota lain di Jawa Timur serta Makassar, namun belum terpikir untuk mendirikan lembaga sejenis di Balikpapan. Ide mendirikan lembaga pendidikan itu muncul, berawal dari keinginan Bachrun Ismail BSc, paman Agung, yang berniat membantu rekannya bernama Murdaya, pemilik Balikpapan Course (BC) di Jalan Ahmad Yani. Tempat kursus tersebut cukup berkembang.
Bachrun menawarkan agar dibuka kursus bimbingan belajar untuk siswa SMP dan SMA. Murdaya setuju. Bachrun lalu meminta bantuan Agung yang punya pengalaman membuka dan mengelola bimbingan belajar di Surabaya, Malang dan Makassar. Agung yang juga kerap dipanggil Cecep, waktu itu belum setahun menjadi wartawan di ManuntunG (Kaltim Post), ia menyanggupi untuk membantu membuka kursus di Balikpapan Course. Namun, ketika kursus baru berjalan 1 bulan, pihak manajemen internal BC tampaknya keberatan dengan hadirnya Agung dan Bachrun. Kursus yang sudah berjalan sekitar 1 bulan, akhirnya tidak dilanjutkan.
profil-stikom-gn-pasir-bpn1aMelihat kondisi tersebut, Agung dan Bachrun memutuskan untuk mendirikan sendiri lembaga pendidikan dengan mengontrak sebuah gedung yang sangat besar di Jl Kapten P Tedean No 2A – Kompleks Pelajar Gunung Pasir. Itulah cikal bakalnya Yayasan Airlangga Balikpapan saat ini.
Menurut Wahyuni Triana, kakak Agung, melihat adiknya itu sebagai seorang innovator. Selalu berpikir out of the box. Sebetulnya Agung lah yang paling berperan dalam perkembangan lembaga pendidikan ini.
Bachrun Ismail tampak galau. Kerja sama membuka bimbingan belajar dengan Pak Murdaya pemilik Balikpapan Course pecah kongsi. Di tengah kegalauan itu, Bachrun membahas hal ini dengan Agung yang kemudian memutuskan untuk mendirikan lembaga kursus sendiri. Agung lalu melihat sebuah gedung besar dan megah terletak di jantung kota pelajar, yaitu di Jalan Kapten P Tendean No 2A, di kompleks Pelajar Gunung Pasir. Gedung itu persis berada di depan kantor Notaris Abdul Wahab SH, suami Bachriah.
Di sekitar gedung itu, terdapat beberapa sekolah favorit, misalnya SD 001, SMPN 1, SMPN2, SMAN 1, SMAN 5 dan beberapa sekolah swasta lainnya. Tempat yang sangat strategis karena belum ada lembaga kursus yang dibuka di kawasan tersebut. Gedung Kursus tersebut hanya sekitar 100 meter dari SMPN 1 dan SMAN 1.
Pemilik gedung itu Zainal Abidin, adalah mantan ketua DPRD Kota Balikpapan yang juga pensiunan tentara. Kebetulan sekali, Bachriah sangat mengenal istrinya, Ermawati, atau biasa disebut dengan Ny Zainal.
yayasan-erlangga-lamaBegitu melihat gedung besar tersebut, Agung langsung tertarik. Tentu saja gedung itu untuk ukuran lembaga kursusnya saat itu terlalu besar dan mewah. Sewanya juga mahal. Setelah menemui Ny Zainal dan melakukan negosiasi harga, disepakati gedung dikontrak selama 2 tahun, mulai September 1992. Waktu itu, belum dibentuk badan hukum yayasan. Karena Yayasan Airlangga resmi terbentuk 1 Januari 1993 di bawah akta notaris Masitah SH, beberapa bulan setelah kursus berjalan.
Untuk membuka kursus, tentu saja dibutuhkan dana operasional yang tidak sedikit. Selain sewa gedung yang cukup besar, juga harus merehab gedung dan membuat sekat agar menjadi kelas belajar yang nyaman. Selanjutnya, membeli kursi, meja, papan tulis, serta peralatan kantor pendukung lainnya. Adapun buku pegangan siswa (diktat) disediakan oleh LBB ASG Surabaya, yang didirikan Satria Dharma.
Mengingat biaya sewa gedung dan prediksi biaya operasional cukup besar, maka Agung dan Bachrun mengajak Ibu Bachriah Wahab, Satria Dharma dan Mulia HD untuk membantu dari sisi pendanaan. “Saya sama Pak Bachrun yang bergerak di lapangan, tapi soal dana kita minta ke pendiri yang lain. Karena saat itu saya tidak punya modal,” kata Agung.
Kemudian mulailah berbagi peran. Agung dan Bachrun menjalankan operasional kursus, sedangkan Bachriah Wahab bertugas sebagai Public Relation (PR). Satria yang tinggal di Bontang, bertugas sebagai pengawas sekaligus konsultan pendidikan. Ada berperan sebagai pemberi motivasi sekaligus sebagai pendukung dana utama.***